salam hangat

ANTARA KITA

            “Saat dia  membutuhkan, pasti saya dielu-elukan dan dicari sampai ketemu. Tetapi, kalau dia bosan…saya hanya sampah yang merisaukan pandangan. Jadi untuk apa saya berbuat baik jika di hati ini nantinya hanya terselip dendam karena perbuatan semena-mena ?? pernah terlintas ingin diam beribu kata. Tapi apa nanti kata Tuhan? Saya malu di akhirat nanti ketika sesi pertanggungjawaban. Akankah saya mampu menjawab ? lebih baik begini dengan hidup yang dihiasi ejekan dan maki orang, tapi Tuhan tidak membenci saya daripada orang itu melupakan saya baik itu disaat dia memerlukan pikiran dan tenaga saya”.

**********

Semua hal yang indah akan berubah menjadi petaka jika tanpa dilandasi rasa suka. Dan semua hal yang tercela, akan berubah semakin ganas jika diasah hingga tajam dan runcing. Andaikata  di Indonesia ada pohon sakura, pasti  Dian akan segera berteduh dibawahnya dan menceriatakan permasalahan yang mengaduk. Mencoba melenyapkan Perhelatan gemuruh benci serta kasihan di hati dan pikirannya yang semakin buntu. Dian menghembuskan nafas beratnya berkali-kali.

“  Sudahlah Di, apa gunanya dikau bersedih. Semakin tegar  dan selalu mohon ampun pada –Nya. Dia pasti akan membuka jalan keluar. Ingatlah bahwa Allah tempat pengaduan terbaik, terbijaksana dengan jawaban penuh kelembutan. Ingatlah…, dan silahkan mencoba, Insyaallah berkah”. Ungkap  Jati menyemangati Dian. Dian hanya tersenyum tipis mendengar jawaban sahabatnya. Dia menyadari bahwa sebesar apapun masalah yang dihadapinya, dia harus tetap tersenyum dan berlaku sewajarnya. Andara tidak ingin kalau masalah yang menimpanya akan berakibat lebih fatal.

Sudah seminngu ini Dian tidak betah di rumah. Sebenarnya bukan hanya seminggu ini, sejak 10 tahun silam dia ingin keluar dari rumah yang dianggapnya “rumahku, nerakaku”. Jika secara sepintas orang mendengar kalimat ini pasti menyangka bahwa Dian itu anak yang tidak berbakti. Umumnya, anak yang patuhlah yang  kerasan tinggal di rumah. Teori itu memang berlaku untuk umumnya manusia, bukan untuk Dian.

Usia 16 tahun yang kini disandangnya bukan usia yang dianggap  muda lagi. Usia yang seharusnya mulai tertanam kedewasaan diri, bukan cengeng seperti saat ini. Dian mulai menelusuri satu demi satu langkah hidupnya. Dimana “dia yang tak mungkin disebutkan dalam cerita” memulai aksi menyakiti hati dan fisiknya. Sedih dan kecewa. Mengapa ada manusia setega itu? Apakah tidak ada rasa penyesalan?

Meskipun tersiksa, Dian tidak mungkin dan jangan sampai membenci. Karena membenci “dia yang tak mungkin disebutkan dalm cerita” adalah golongan orang kafir. Kalau agama sudah berkata, lebih baik menuruti dan bungkam. Allah lebih tahu semua tentang hambanya. Dian hanya berdoa semoga seiring waktu berjalan “dia yang tak mungkin disebutkan dalam cerita” mendapat siraman jiwa dari Allah yang Maha Pengasih.

Untungnya ada  dewi penolong. Dia diutus Allah untuk menolong Dian. Wih dialau dewi penolong itu juga tak luput dari cengkraman dan amuk “dia yang tak mungkin disebutkan dalm cerita”. Dengan  segala ketabahan dan perjuangan, dewi penolong itu selalu melindungiku dari tamparan dan cambukan. Maka tidak mengherankan jika dewi penolong sedang pergi, rasa was-was selalu menghantui Dian.

Pernah suatu kali dewi penolong itu tidak kuat menahan beban di punggungnya hingga 3 bulan lamanya dia mengembara meninggalkan Dian. Namun semenjak itu pula, “dia yang tak mungkin disebutkan dalam cerita”  tidak melayangkan pukulan sekasar biasanya. Lantas, apakah Dian  sudah bahagia? Sama sekali. Tidak semudah itu. Bukan berarti pukulan sudah lebih lembut tapi makian dan ejekan berkurang. Bibirnya masih basah dengan “rayuan kasar”.

Selalu orang lain yang ”dia yang tak mungkin disebutkan dalam cerita” dianggap lebih dan lebih. Orang lain itu jarang berperilaku sopan di depannya. Tapi apakah dia acap kali mengucap kata kotor? Makian? Ejekan? Dan kata yang menghempas motivasi diri pada orang lain itu???

Meraba rasa yang selalu membuatnya sakit adalah percuma. Dan kini, Dian enggan untuk mengangkat kembali cerita usang yang masih mengalur tertib di kehidupannya. Dia yakin, selain menciptakan kata musibah atau masalah, Allah juga menciptakan kata solusi. Dan masalah itu datang untuk dihadapi, bukan dihindari. Semakin berpikir, dia mengerti. Segala peristiwa pasti akan menimbulkan benefit untuk masa remajanya. Inilah hidup !!

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s