kadar keasaman cintamu

KADAR KEASAMAN CINTAMU

 

Mendung masih menngelayut manja pada langit. Sekumpulan awan merasa risih,hingga menghitamkan tubuh mereka. Sementara itu,titik-titik embun menempel ria pada pada daun-daun dan rerumputan. Mungkin gerimis tadi malam menyisakan siklus alam semacam ini. Menimbulkan hawa dingin menusuk tulang juga. Akibatnya, ratu sinar terang enggan menampakkan pancaran cahya gold keperak-peraknya.

Padahal pagi tak lagi buta,jam girly sophie martin milikku menunjukan pukul 06.00 WIB. Hmm… sudahlah!! Lebih baik segera kubawa 2 mangkuk bubur ayam special menuju gazebo dipojok alun-alun kota. Disana Demian-sebut saja Dean telah lumayan lama menunggu. Melihatnya dari kejauhan adalah hiburan tersendiri. Mimiknya yang “adjust condition” memang begitu cute.

 

“ Lama banget sih El ! laper nih… cacingnya udah pada main boxing diperutku !”. Protesnya agak lebay. Mukanya dibuat sememelas mungkin.

Aku hanya diam tanpa komentar. Kusodorkan semangkuk buryam dengan bonus senyuman manis untuknya. Dean balas menatapku,membalas senyumku dengan cengiran terbodohnya. Menampakkan sederetan gigi mentimun rapi miliknya. Aku jadi tertawa. Ah Dean…kau memang inspirator terunik dan paling langka yang Tuhan berikan padaku!

Selama menikmati buryam kami hanya diam tanpa bercakap. Dean seperti ayahku, mengajari hal-hal baik dari yang paling sederhana sampai luar biasa. Yaahh… seperti hal makan ini. Suap demi suap buryam meluncur bebas ke perutku. Memberikan job untuk usus 12 jari ,usus besar dan organ yang berhubungan lainnya.

 

Dean selesai lebih dulu. Sedangkan aku masih berusaha mengunyah daging asap yang alot. Dia memperhatikanku,lalu tersenyum…yang menurut analisisku itu adalah senyum yang mengejek,menggoda. Hmmm…

Dean mengambil permen karet dari jaket  seephylis putihnya dan tanpa jeda melahap semuanya.

 

“Dean! Kau gila ya?? Masa permen karet segitu banyak langsung kaulahap semua! Gimana kalau tertelan??. Cemasku pada De.

Namun,dia hanya diam dan tetap mengunyah permen-permen itu dengan santai. Pasti selalu begitu. Karakter yang cuek inilah yang selalu membuatku sebal,gemas sekaligus kangen.

“Erella.. kau anggap aku gila?? Sama seperti cintaku padamu. Makin menggila…tulus”.

Hmm…gombal! Tiap kali kunasehati,Dean selalu membalasnya dengan ledekan kata-kata gombal cintanya. Tapi…jujur saja. Ini justru membuatku makin mencintainya. Walaupun begitu…pesan bunda tentang rayuan lelaki yang katanya penuh dengan maut selalu kuingat.

“Pulang yuk! Udah siang nih…”ajakku akhirnya.

Namun dean menarikku dan mendudukkanku kembali. Aku deg-degan nggak karuan. Dean… apa yang akan kau lakukan??

“mangkuknya balikin dulu ke abang penjual buryam! Masa langsung ngloyor aja…”

 

Huh! Kirain mau ngapain. Dengan muka sebal kuambil 2 mangkuk itu dan begegas mengembalikannya. Sementara itu..Dean mengambil sepeda di pelataran pintu depan  alun-alun.

“Kali ini aku depan, kamu belakang. Tapi tenang aja …aku nggak akan ngebut kok?!” perintah dia padaku. Kuposisikan diriku di sadel belakang,dibelkang sadel utama.

Kami mulai mengayuh perlahan. Melewati gang-gang kecil yang menantang. Hingga tiba di pertigaan…

“Mau belok kiri apa kanan?” tanyanya

“Kiri aja… biar lebih jauh! Jawabku agak manja.

“kanan deh!”

“kiri aja Dean…”

Adu mulut antara pilihan kanan atau kiri cukup sengit(lebay..!). Tiba-tiba mobil di depan sepeda kami berhenti dan suara klakson anjingnya begitu mengganggu telinga.

“El…pilih kanan atau klakson mobil itu terus menggonggong dan akhirnya si pemilik mobil melahapmu??. Ancam Dean dengan muka bego yang asli- terlalu dibuat-buat.

“Emm.. a..aku..ngikut aja! Sambarku cepat.

Kalau yang punya mobil ganteng,muda plus baik hati sih oke aja.

Tapi kalau udah tua,galak,ditambah kumisan dan brewokan gimana?” Mending ngalah aja deh,,!

 

Setelah menghabiskan waktu sekitar 1 jam perjalanan, akhirnya tiba juga di rumah. Jam dinding depan hunian asriku menunjukkan pukul 07.30 WIB.

Tapi langit masih mendung. Hmm…no problem.

 

Kulihat bunda begitu asyik dengan koleksi anggrek yang beliau beli 2 bulan lalu. Sejak muda,bunda memang menyukai dunia yang berbau wanita banget. Dari merajut, memasak hingga mengoleksi & merawat bunga. Beda denganku,berpetualang dan melakukan berbagai eksperimen adalah hobi andalanku. Berpacaran dengan Dean suatu tantangan bagiku. Dia juga suka petualangan ekstrim dan percobaan ilmiah. Secara dia jago fisika dan kimia. Berderet piala dan penghargaan memenuhi almari kayu etnik Cina  di ruang keluarganya. Tapi,bermacam hal yang aku kagum darinya walau ia seorang juara,anak orang berada dan memiliki fisik dan bagusnya rupa adalah tak sombong.

 

“Pagi tante…wahh.. rajin banget ya? Pantas saja semua tanaman tumbuh subur disini! Tante Sari begitu memperhatikan mereka”. Sapaan ramah Dean membuyarkan lamunanku. Hmm.. Akhir-akhir ini aku memang terlalu sering berilusi ria.

 

Segera kuturun dari sepeda dan mencium pipi bunda. Menyalami tangan beliau yang terasa hangat walau terkena air. Dean juga begitu,menyalami tangan bunda. Tapi,tak lama setelah itu,Dean pun pamit. Hari ini ada pertandingan futsal di Stadion. Sayang sekali aku tak bisa  menyemangati. Dua kasus akuntansi telah menunggu untuk diselesaikan. Dari mulai sales jurnal hingga closing jurnal. Hmmpp….Minggu yang penuh akan pemikiran ekstra.

 

Kini,Dean telah menghilang di belokan gang. Aku pun masuk rumah. Menuju ruangan berdinding bright purple. Hunian paling nyaman dalam rumah minimalis yang asri. Ruangan itu kamarku. Kurebahkan tubuhku di kasur lantai. Sejenak pejamkan kedua mata dan membukanya kembali. Berulang-ulang ku melakukannya. Aku menamainya “relaksasi ErellaDemian”,yang mana merupakan gabungan antara namaku dan Dean. Sebuah terapi simple namun memberikan kesegaran,entah saat letih maupun galau. Sugesti dari “relaksasi ErellaDemian” memberikan semangat yang power bagiku. Setelah melemaskan otot-otot kaki dan tangan, kuberanjak mengambil tugas akuntansi dan mulai berkutat untuk menyelesaikannya. Berawal dari konsentrasi ringan…level bertambah dan akhirnya aku telah menyelami kasus itu tanpa pedulikan sekitar.

 

 

“ Hey Erella…pagi yang cerah bukan?? Kemarin hari yang membosankan ya..? bayangkan! Dua kasus akuntansi yang menguras otak,mendung,ditinggal ortu pergi ke villa di Bogor,sus coklatku yang enak itu lho Er.. pas abis! Mana pulsa juga kosong,acara TV nggak ada yang menarik…

 

Dan bla..bla..bla.. cerita Gita yang panjang mengiringi langkah kecilku ke kelas. Sesekali aku hanya membalasnya dengan “ooh”,”hemm”, atau isyarat tubuh. Lagi pula jika mengomentari dengan panjang lebar,Gita pasti akan marah dan merasa tersaingi. Lebih baik menjadi pendengar setia.

 

Tiba-tiba dari arah belakang, sebuah suara yang amat kukenal memanggil nama kecilku. Kuputar badanku dan mendapati Dean sedang tersenyum simpul.

“El,nanti pulang sekolah bareng ya.. kebetulan tadi pagi aku diantar. Tapi jalan kaki.., ada yang mau aku omongin sama kamu”. Ujar Dean

“Hmm..oke. Tapi aku pulang lebih siang sekitar jam dua. Apa kamu nggak bosan nunggu? Jawabku.

“Aku bisa ke perpus dulu. Kamu langsung ke perpus kalau uda pulang. Gimana?”

“Siip…”

“Aku ke kelas dulu ya,bye..” pamit Dean. Dia menyalamiku dan bisikkan “I love you”.

Kuterima tangannya dan  balas bisikkan “love you too” di telinga kirinya. Romantis.

 

Empat mata pelajaran terasa begitu lambat berlalu. Aku kurang konsentrasi karena perut yang lapar. Istirahat tadi aku nggak sempat ke kantin. Mengerjakan beberapa soal matematika yang lumayan membutuhkan penalaran.

 

Akhirnya saat yang ditunggu tiba. Lagu gambang suling berbunyi nyaring. Menandakan saatnya pulang sekolah. Tapi..Bu Lidia tidak bergeming dari white board didepannya dan mulai menulis beberapa rumus logika matematika. Kupandangi teman-teman satu kelas. Mereka tetap terpaku pada buku matematika masing-masing.

 

Otakku berpikir keras dan berusaha mengingat suatu hal. Ya ampun…. aku baru ingat! Tadi pagi saat  pergantian jam kedua,Ade si ketua kelas mengumumkan ada tambahan mata pelajaran matematika. Sangat disayangkan karena Bu Lidia besok pagi diklat di luar kota. Jadi pelajaran matematika diganti siang ini.

 

Lha terus.. bagaimana  dengan Dean?? Aku kan udah mengiyakan mau pulang bareng dia! “Ya tuhan….bagaimana ini?? Tolong hamba…’ pintaku dalam hati.

Untunglah,, setelah meuliskan tiga rumus logika matematika,Bu Lidia keluar kelas. Kugunakan kesempatan ini untuk sending message ke Dean.

 

Dean..sorry! aku nggak bisa pulang bareng kamu.

Ada tambahan mapel matematika. Kamu

Pulang duluan aja ya,,

Love u..

 

Sending….

 

Yes! Sukses. Semoga aja Dean nggak ngambek gara-gara pembatalanku. Amin.

Bu Lidia masuk kelas lagi dengan setumpuk lembar soal ditangannya. Helsa yang kebetulan kebagian duduk tepat di depan meja guru membagi soal dibantu Andika.

Satu lembar soal telah kuterima. Sederet  rumus pemecahan menari-nari di otakku dan mendesak ingin keluar. Akhirnya,aku mengaku kalah. Mengikuti naluri untuk konsentrasi dan mulai mengerjakannya dengan teliti. Dasar maniak matematika! ^_^

 

Seminggu berlalu, hubunganku sama Dean kayak nasi basi. Tanpa merasa bersalah, dia nggak pernah hubungi aku. Sama sekali. Kita juga nggak pernah ketemu, walau satu sekolah. Yaahh.. aku emang salah. Waktu dia ngajak pulang bareng tempo itu, aku nggak bisa. Tapi kan aku udah kasih alasan  real  sebabnya.

Jujur… aku nggak mau mendahului. Dari nyapa, sms atau main kerumahnya. Gengsi. Aku wanita, dan dia laki. Harusnya dia yang inisiatif. Bukan dengan diam-diaman kayak gini! Hmmm…

Untungnya,, seminggu itu aku lagi disibukin sama ulanagan –ulangan yang- benar-benar membuatku lupa sama Dean. Mungkin dia juga. Boleh dikatakan cinta kita menguap. Oh tuhan… aku udah cinta banget sama dia.

“G A L A U “ Ejaku lirih. Kutopang daguku. Mataku menerawang . jauhh…

“pssstt… Erella !” Vania menyikutku. Aku gelagapan.” jangan ngelamun?! Miss Kartina liatin lo tuh…” bisiknya.

Mataku mengerjap. Aduh…nggak bisa dibayangin betapa polos   mukaku

“Erella Anggranika Puspitasari, bisakah anda konsentrasi untuk mata pelajaran saya?/” panggil Mrs. Kartina. Tepatnya..gertakan ! Membuat mukaku merah bukan merona, persis kaya cabai busuk. Menghitam. Oohh,,, Bunda! Semua ini gara-gara Dean !

“Kalau di kelas itu buat belajar ! jangan mikirin pacar melulu dong…” kali ini suara Alice bikin suasana tambah panas.

“Denger-denger… hubungan lo sama Demian anak IPA 1 itu lagi memburuk ya ? I’m sory to hear that yah…” lanjut si Alice menyebalkan.

Untungnya aku bisa control emosi. Bukannya membela atau menangkan suasana, mimik Mrs. Kartina justru seolah-olah berkata “Ada apa? Gua mau dong beritanya!? Hmmm…

Aku hanya diam, lalu tersenyum. Kuambil buku English coklatku. Membawanya ke meja guru.

Maaf Miss Kartina. Bukannya saya tidak konsentrasi di mata pelajaran English ini. Tapi saya mengerjakan tugas yang diberikan Miss.. membuat puisi English. Ini hasilnya miss..” ujarku hati-hati.

Miss Kartina menerima buku Englishku. Matanya menari ke kanan dan kiri membaca puisiku. Dan… tersenyum !

“That’s right honey…, puisi yang indah. Sorry kalau saya mengira kamu melamun. I see… seseorang yang menulis karya ada kalanya melamun untuk mendapatkan imaji. Bukan begitu Erella?? Tanya Miss Kartina. Lebih tepatnya sebuah pembelaan bagiku.

“Itu salah besar Miss…” kalimat Alice terputus.” Alice… jangan Childish ! urusi saja masalahmu !”. Eing..ing…eng.. senjata makan tuan ternyata!

Alice cemberut, lalu memandangku sinis. Aku hanya melngos, cuek.  Mataku kembali menerawang, lebih jauh. Bukan karena membuat puisi English. Namun…memikirkan Demian. Kali ini kamu benar Alice…! tapi sayang, Miss kartina mempercayaiku ! hmm.. tanpa resistensi, seru nih!

 

Bel tanda pelajaran usai berbunyi. Kubereskan semua buku dan memasukkannya ke dalam tas. Sedang sibuknya menata buku, pengeras suara di depan kelasku berbunyi.

“ Selamt siang kami ucapkan kepada seluruh warga sekolah. Maaf mengganggu aktifitas. Kami selaku pengurus OSIS mengumumkan bahwa tanggal  4 September, sekolah kita tercinta telah berumur 23 tahun. So, untuk merayakannya, akan ada pentas seni pada tanggal yang sama. To the point, setiap ekskul harap mengirimkan penampilan/ karyanya untuk memeriahkan acara. Ditunggu konfirmasinya paling lambat tanggal 31 Agustus. Atau tepatnya besok pagi. Terimakasih buat perhatiaanya, selamat melanjutkan aktifitas”.

Bersamaan dengan selesainya pengumuman dari pengurus OSIS, handphoneku getar. Ternyata ada sms masuk. Kubaca perlahan dan olala… besok aku manggung! Ehm.. bukan Cuma aku sih… tapi band Antartica. Salah satu Band terkenal di sekolah. Personilnya gabungan antara anak IPS dan IPA. Dan… kebetulan aku jadi vokalisnya, Dean rhytem andalannya.

Berarti..dalam tiga hari ini aku harus latihan. Dan nggak bisa dipungkiri, harus ketemu sama Dean. Sebuah sosok yang sedang meyebalkan. Arrgghhh… sudahlah! Demi sekolah tercinta, aku nggak boleh gitu.

Kubergegas keluar kelas. Tapi sayang… Aldy-bass band Antartica,

udah menghadang di depan pintu kelasku. Tanda bahwa aku harus ikut dengannya. Mungkin membahas acara ultah sekolah.

“Er..lo udah dapat sms dari Gilang kan? Sekarang kita langsung ke ruang musik. Pak Aryo udah nunggu !” ujarnya setengah gugup. Dari matanya, kayaknya Aldy letih. Kaos olahraganya basah karena keringat. Tapi nggak bau anyir,malah wangi yang..ehmm, gentle gitu..!!

Aduhh… aku kenapa sih? Kok mikir yang nggak-nggak gitu! Factor  galau plus laper pasti !

“Er! Kok melamun sih? Kita udah ditunggu nih.. ada-ada ajaa…!

“A..Aku..eng,, yuk cepetan ! sory ya… nggak focus ! jawabku terbata. Aldy tersenyum. Manisnya,,, jadi inget Dean.

“ya udah, nggak apa. Gue tau lo laper,sama. gue juga Er, tapi mau gimana lagi?” katanya panjang pendek sambil menunjuk perutnya yang dari luar aja udah keliatan atletis. Jorok ah!

Aku Cuma tertawa ngikik.

“Yuk Er..” ajaknya. Aldy menggandeng tanganku. Sayangnya.. aku nggak bisa lepas. Diajak setengah lari, mana bisa berontak !

Akhirnya, dengan sedikit tenaga kuda yang dipelopori oleh Aldy, sampai juga di Ruang musik. Tangan kanan Aldy mengetuk pintu. Berdua kami pun masuk. Berdua juga kami tersenyum. Bukan senyum.. tapi cengiran kucing yang kalah waktu cakar-cakaran antar sejenisnya. Cengiran yang juga membuatku heran dengan tatapan seisi ruangan.

“lepasin tangannya !” bentak Dean lirih.

Aku dan Aldy saling pandang. Lalu melihat ke bawah. Reflek.., kukibas tangan Aldy. “sory..” kataku simpul.

“ Gua bisa jelasin Ian ! seru Aldy pelan sambil melewati Dean.

Dean nggak jawab. Tatapannya menerawang. Dingin. Sumpah… aku benci banget Dean yang ini.

Pak Aryo menjelaskan panjang lebar tentang apapun mengenai pentas seni besok. Dan Kesepakatannya antartica band akan membawakan lagu Trouble is a friend-Lenka sama lagu ciptaan kami sendiri, “Inilah aku’. Padahal, lagu ciptaan kami itu genrenya jazz modern yang badsad. Sempat terjadi adu opini sih,,,ada yang nggak setuju kalau dalam  ultah sekolah yang suasananya happy, masa lagunya sedih. ? dega segala kebijaksanaan dan kefasihan bicara, Pak Aryo meluruskannya.

“ Memang ini acara happy. Tapi bukankah tidak masalah jika “inilah Aku” kita pentaskan ?? lagu ini karya siswa. Bukan sebagai penyedih suasana. Kita lebih berpikir pada makna dan kreatifnya. Usaha dan hasilnya.. .Lagi pula, “inilah aku” menggambarkan sosok yang tak putus asa dalam cinta, cita dan mengisahkan sebuah cerita. Saya berharap lagu ini tetap dibawakan”. Terang beliau waktu itu-yang membuat  seisi ruang musik berpikir dan akhirnya mengangguk setuju.

Brifing acara ultah sekolah usai dan dilanjutkan 2 hari pra acara. Atau lebih dikenal dengan gladi bersih. Tiba-tiba ada yang menyentuh pundakku. Aku terkejut dan menoleh ke belakang. Huft..ternyata itu Dean. Dia memberi kode padaku untuk mengikutinya.

“ Disini ja El, sebentar aja. Udah sore”. Perintahnya sopan.

Kami duduk di bangku taman dekat kolam. Kulihat jam ditanganku. Lima menit sudah aku dan Dean saling diam. Akhirnya, kuberanikan diri untuk mengawali. Hal melanggar  adat yang dibuatku selama ini. Masih ingat?? Yeahh.. mengawali perbincangan !

“Dean, kamu ngajakak  aku kesini mau apa?” tanyaku. Dean mendongak. Menatap lekat mataku, sebentar. Dengan halus, ia palingkan wajahnya ke sisi kanan, dan melayangkan pandangan hampa kedepan. Pandangan isyarat yang menurutku ia sedang gamang, hmm.. Mungkin !

“Erella…aku mencintaimu. Masih ingatkah?? Sejak balita, kita sudah saling kenal dan bersahabat. Menginjak SD, kita saling bermain dan belajar bersama. Saat SMP, dimana kita mulai remaja…timbullah benih-benih rasa berbeda,..yang membuat kita malu untuk berjumpa’.

Aku mengangguk pelan. Dean…kau aneh sore ini ! pikirku.

“Dan akhirnya, saat SMP kelas tiga, kuberanikan diri mengatakan cinta. Awalnya, aku takut kamu akan nolak dan marah, ternyata…”

Dean menghembuskan nafas berat. Dia mulai berkata lagi…

“ Ternyata…kamu nerima aku dan bilang cinta kamu juga ke aku..

Seneng Ell. Dan kini, Tiga tahun kita melewati semuanya bersama. Menggapai asa dan cinta, menghapus duka, dan mengisahkan cerita. Itu semua nggak akan aku lupain selama hidupku. Aku janji !!’ ucapnya panjang. Mukanya sendu. Aku jadi nggak tega melihatnya.

“Demian…” panggilku sekilas. Dia menatapku dan tersenyum. Aku balas menyungging. “Aku juga sayang kamu. Hidup lebih  berwarna karena kamu memulasnya dengan rapih dan indah. Dan itu.,.. nggak akan kulupa seumur hidup”. Kataku meniru ucapan terakhirnya.

“ Erella…”

“iya,,, kenapa?? aku nekad melihatnya. Lebih tepatnya, kulihat matanya. Ada ragu yang menggenang.

“Emm,,sebaiknya kita putus aja. Aku kasian kalau kamu sama aku terus,, pasti bakal merana. Mending kamu cari yang lain”. Ujar Dean mantap.

Aku seperti merasakan sebilah pisau menancap pangkal nadi yang mengalir dalam segumpal daging yang amat sensitip yaitu hati.

“A…apa?? Dean, kamu serius? Kenapa? Aku memang nggak sempurna. Masih banyak kekurangan dan sering salah. Aku pernah ngejutekin kamu. Tapi…aku saying banget sama kamu. Sungguh…” sanggahku disela isak tangis yang kurasa makin deras.

“Atau…ini ada hubungannya dengan kejadian tadi? Aku sama Aldi nggak ada hubungan special. Tadi kami gugup dan..tanpa sengaja Aldy pegang tanganku. Sama sekali nggak disengaja De…hiks ” beberku sayu tanpa memberi  waktu Dean untuk mengungkapkan sesuatu.

Tiba-tiba…

“Srrkk..brrkk” terdengar suara semak disingkap kasar. Dari situlah, Aldy muncul. Wajahnya merah seperti menahan amarah.

“Demian, gua bisa jelasin semua. Tapi tolong lo jangan gegabah kayak gini. Erella nggak salah. Gua tahu dia saying banget sama lo. Pikirin matang dulu !” Bela Aldy setengah teriak.

Demian menggeleng angkuh. “Bukan gara-gara itu. Ini yang terbaik buat gua dan Erella. Lo nggak tahu apa-apa !”. Tegas Dean agak membentak.

“Lagi pula, sama sekali nggak sopan nguping pembicaraan orang di semak. Gua kira lo anak yang sopan..”Lanjut Dean mengejek. “Ell, alasannya kuperjelas nanti”. Iming-imingnya pendek dengan senyum tertahan.

Aku bengong. Nggak habis piker! Dengan gampangnya dia bilang putus setelah tiga tahun slalu bersama. Angkuhnya, dia mau kasih penjelasan nanti ! Oh..menyebalkan !

Aldy menatapku, mungkin kasihan. “Nggak papa Al, sekuat apapun karang nahan ombak, pasti bisa terkikis juga”. Ujarku bijak, tapi hatiku menangis. Aku segera berlalu meninggalkan Aldy yang masih menatapku dengan pandangan nggak teganya. Oh Tuhan, baru Kau pertemukan kami setelah satu pekan tak jumpa. Tapi.. kenapa dalam suasana nggak enak seperti ini??

 

Ternyata, benar kata orang bijak kalau “cinta itu membunuh  segalanya”. Salut juga sama puitis yang bisa bilang “Cinta itu sesuatu abstrak yang selalu bikin orang buta”. Ternyata..semua benar. Memang inilah yang sedang kurasakan.

Kulihat  jam lagi, pukul 19.00 WIB. Kata bunda, teman lama bunda akan bertamu  jam 18.30 WIB. Tapi.. sudah setengah jam kok belum datang juga??

Aku disuruh bunda jaga pintu. Sedang bunda sedang menyiapkan suguhan. Tapi, kalu caranya molor seperti ini, bosan banget. Menambah kebetean diri. Bunda belum tau tentang aku dan Dean sih..!

Sura bel berbunyi ketika hamper saja aku terlelap. Ngantuk. Kukucek mataku Kubuka pintu dan.. o..lala.. bukan teman bunda !

“Dean..??”  tanyaku keheranan. Kalau aku nggak punya hati, mungkin aku sudah mengusirnya. Malas sudah melihat mukanya !!

“ Ya Erella, boleh aku masuk?” pintanya lembut.

“ya”. Jawabku pendek. Membuang waktu kalau berbicara banyak pada orang yang sudah membuat  hati sakit.

“Tante Hastari ya El? Suruh masuk”.Perintah bunda sambil melongok. “ohh, Demian.. Tante kira Teman lama tante”. Kata Bunda ramah.

Demian hanya tersenyum dan menyalami tangan bunda.

Tiba-tiba handphone bunda berdering. Pasti ada sms masuk! Kataku dalam hati. Seketika mimic bunda berubah kecewa. “yahh.. Hastari ternyata nggak tau rumah kita El.. terpaksa bunda harus menemuinya di Café La Tahzan. Kamu sama Demian baik-baik dirumah ya..” pesan bunda akhirnya.

“Demian, jangan macam-macam !” pesan bunda lagi. Telunjuknya diacungkan pada Dean. Dean mengangguk.”siip tante”. Jawabnya ramah.

Kekosongan waktu terjadi lagi setelah bunda keluar rumah. Aku, yang nggak betah dia berlama-lama dirumah menggertaknya.

“kamu kesini mau ngapain? Aku nggak punya waktu banyak. Tugas IPS numpuk”.

Ujarku jutek.

Demian mungkin sadar diri. Dia langsung bersuara.

“Erella, aku tahu kamu marah, kecewa, sebel. Tapi aku punya sebab kenapa  milih mengakhiri hubungan cinta kita”. Dean menghela nafas. “ Aku punya penyakit mematikan. Harapan hidupku cuma 50 %. Aku nggak mau kamu pacaran sama orang yang sebentar lagi mati. Aku nggak mau kamu sedih Ell.., mending kamu kecewa sekarang karena jahatnya aku mutusin kamu, daripada merana ditinggal pergi selam-lamanya”. Terangnya pelan.

Perasaan kasihan menyusup dalm batinku. Aku nggak percaya kalau Dean punya penyakit. Selama ini, dia baik-baik aja dan nggak pernah mengeluh.

“Dean.. bener apa yang kamu omongin? Kalau ya, penyakit  apa? Pasti ada obatnya !

Kataku simpatik. Jujur, sesebal aku sekarang, aku tetep nggak tega kalau ternyata dia punya penyakit..yang, katanya mematikan itu.

“Aku berani sumpah El.. Kanker otak, stadium tiga”. Kututup mulutku. Ya Tuhan.. separah itukah?

“Aku nggak pernah menyangka. Kenapa kamu nggak bilang dari awal? Kamu udah sakit sampai stadium tiga, tapi Cuma diam. Oke..Lupain kejadian kemarin. Aku akan tetap sama kamu. Aku bakal temani kamu berjuang melawan penyakit itu. Aku akan setia sama kamu De..” pintaku memelas.

“Nggak El, kita harus putus. Jangan biarkan aku mati membawa lebih banyak kesedihan orang. Kita putus dan kamu bahagia sama yang lain. Aku mohon El.. ikhlasin aku sekarang.. aku yakin banyak cowok yang suka sama kamu. Menyayangimu melebihi aku. Biarin aku pergi dari hatimu sebagai pacar.. jadikan aku teman biasa untukmu. Percayalah.. semuanya akan terasa lebih indah dan ringan. Aku yakin itu..”  jelasnya panjang. Membuat hatiku semakin sakit. Aku nggak bisa membendung air mata lagi. Kutumpahkan semua. Untuk  kesedihanku, kecewaku, marahku.. dan rasa kasihan pada Dean.

Aku nggak mampu berkata lagi. Keterangan Dean telah membungkam rapat mulutku, menepiskan amarah yang akan kutumpahkan waktu itu. Melenyapkan  kecewa yang sangat. Menggantinya dengan satu rasa “sedih karena kehilangan”. Kehilangan kasihnya kini, dan mungkin… selama-lamanya.

Di luar sana, langit seakan ikut merasa. Bulan tak lagi nampak. Tergantikan buram yang menghiasi malam. Bintang seakan kehilangan sinar. Redup, sunyi…

 

 

 

 

 

 

Purwokerto, 31 Agustus 2011

 

Hari yang dinantikan tiba. Sekolah tercinta telah genap berumur 23 tahun. Usia yang tak lagi muda, hampir berkepala tiga. Suasana alam ikut bahagia. Cerah mentari, hangat hawanya. Dedaunan pun ikut turut bersuka ria, berguguran dengan indah, menurutku…

Akhirnya setelah 20 menit acara berjalan, tibalah Antartica band untuk menampilkan karya. Sorak penonton membahana, membuat nyaliku makin ciut. Tapi.. segera hilang saat Dean tersenyum  padaku. Senyum…persahabatan. That’s right ! Kita udah resmi putus. Inviolability atau nggak bias diganggu gugat. Dan aku udah mulai bias menerima. Walau malam itu aku nangis sebab hati terbakar. Bagaimana bisa aku melupakan semua peristiwa yang berotasi begitu indah dengannya?? Sabarkan aku Tuhan,, aku yakin ini terbaik. Amin..

Antartica band mulai membawakan lagu Trouble is a friend-Lenka. Sorak makin riuh, dan anehnya.. membuatku makin menikmati suasana. Kumulai menyanyi dengan segenap rasa. Setelah Trouble is a friend, kami tampilkan “ Inilah Aku”. Lagu yang dibuat Dean satu bulan lalu. Ternyata lagu itu untuk dirinya yang mulai  merasa sesuatu menggerogoti otak kanannya. Dean.. sedih rasanya melihatmu. Kunyanyikan “Inilah aku” dengan segenap jiwa, cinta, dan kesedihan yang mendalam. Untukmu dan darimu.. Demian. Kuakhiri “inilah Aku” dengan kata I love you. Aku menatap Dean.. dan dia tersenyum manis padaku. Tapi.. hanya selang beberapa detik,

“Bruukkk..!!”

“Deaaan !!!!” ku menjerit histeris disusul dengan gelapnya dunia bagi Dean… tetapi tatap sebagai bintang yang bersinar bagi yang sayang padanya. Tuhan pasti begitu.. Amin.

 

 

 

 

 

NAMA LENGKAP                             ; SRI IKE DIAN PUSPITASARI

NAMA PENA (optional)                    ;  DHIANIKEE

AKUN FACEBOOK                          ;    http://www.facebook.com/sriike.dianpuspitasari

AKUN TWITTER                               ;   @DHIANIKEE

ALAMAT E-MAIL     ; puspitasari_dhianike@ymail.com

ALAMAT SURAT MENYURAT        ;  Jl. Kutoarjo.

Panggel, Panjer, Kecamatan Kebumen,

Kabupaten Kebumen, Jateng>.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s